Choose theory (tugas 2)
Jadi saya memilih untuk menguasai teori “Language and Gender”
Dari the medium yang dikembangkan oleh Robin Lakoof (Amerika Serikat) dalam bukunya yang berjudul “Language and woman’s place” (1975)
Asumsi-Asumsi Teori Language and Gender
1. Bahasa itu nggak netral
Cara orang bicara (terutama perempuan) sering dianggap “lembut”, “lemah”, atau “tidak tegas”.
Padahal, itu bukan bawaan lahir. Itu hasil dari cara masyarakat membentuk peran gender itu sendiri.
2. Perempuan diajarkan bicara berbeda sejak kecil
Dari kecil, anak perempuan sering dibilang harus sopan, jangan kasar, harus halus.
Akhirnya, gaya bicara mereka pun jadi lebih hati-hati, penuh keraguan, atau tidak langsung Misalnya:
“Maaf ya, aku cuma mau tanya boleh...”
Sementara laki-laki lebih diajarkan bicara to the point.
3. Bahasa mencerminkan posisi sosial
Cara bicara perempuan sering mencerminkan posisi yang kebih rendah dalam masyarakat patriarki (yang didominasi laki-laki).
Bahasa mereka cenderung “merendah” karena budaya membentuk mereka seperti itu.
4. Laki-laki dan perempuan punya gaya bicara yang berbeda
Ini bukan soal siapa lebih baik, tapi karena perbedaan perlakuan dan ekspektasi sosial.
Contoh:
- Laki-laki sering pakai bahasa tegas dan langsung.
- Perempuan sering pakai bahasa yang lebih sopan dan banyak ekspresi emosional.
5. Bahasa bisa memperkuat ketimpangan gender
Ketika bahasa perempuan dianggap “kurang serius” atau “nggak tegas”, itu membuat suara perempuan kurang dihargai di ruang publik.
Bahasa bukan cuma alat komunikasi, tapi juga bisa menciptakan dan mempertahankan ketidaksetaraan
Intinya:
Teori ini percaya cara kita bicara dipengaruhi oleh gender, dan itu semua dibentuk oleh budaya, bukan kodrat alami. Jadi, kalau mau setara, kita juga perlu sadar soal cara bahasa membentuk cara pandang terhadap perempuan dan laki-laki.
Komentar
Posting Komentar